Transplantasi Organ Tubuh

Na dadyadyasase danam na bhayannopkarine, na nrttaggitacilebhyo hasakebhyo na dharmika (Sarasamauscaya 188) Artinya : “Yang harus diingat dan diperhatikan oleh pada dermawan ialah jangan sekali-kali mengharapkan pujian, juga memberikan dana punia (sedekah) jangan berdasarkan karena takut, jangan mengharap supaya mendapat balasan.

SEBELUM menguraikan transplantasi organ tubuh menurut pandangan agama Hindu, ada baiknya dipahami terlebih dahulu hakekat dari tujuan hidup manusia sebagaimana tercantum dalam kitab suci Weda. Tujuan hidup menurut ajaran Hindu dirumuskan dalam Weda : “Moksartham Jagaddhitaartinya tujuan hidup manusia di dunia ini untuk mendapatkan moksa dan jagaddhita. Kata “Moksa” berarti kesempurnaan hidup, ketentraman rohani, ketenangan jiwa, kebahagiaan batin yang dipancari oleh sinar Illahi, kehidupan abadi yang suci di akhirat, manunggalnya roh dengan Tuhan Sang Pencipta, “Panunggaling kawula lan Gusti”. Sedangkan “Jagaddhita” berasal dari kata “Jagat” berarti dunia, umat manusia atau dapat berarti masyarakat atau rakyat dan kata “hita” berarti kebaikan, kedamaian, kesejahteraan. Jadi Jagadhhita berarti kedamaian dunia, kebaikan umat manusia dan kesejahteraan rakyat.

Untuk mencapai kebaikan, kedamaian dan kesejahteraan hidup umat manusia, masyarakat dan rakyat, maka ada tiga aspek hidup yang diperlu diketahui dan dihayati yaitu yang disebut “Tri Warga”. Tri berarti tiga dan warga berarti terjalin erat. Adapun bagiannya adalah “Dharma, Artha dan Kama”. “Dharma” artinya etika kerohanian, iman, amal kebajikan, kejujuran, kebenaran, keadilan, budi pekerti yang luhur, pengendalian diri, pengekangan nafsu, tidak mementingkan diri sendiri (tan amrih sukhaning dawak), Sradha bhakti kepada Tuhan dan sebagainya. “Artha” artinya benda-benda materi yang dapat memenuhi naluri untuk mendapatkan kebutuhan hidup, seperti berbagai minuman (untuk menghilangkan dahaga atau haus), berbagai jenis makanan (untuk menghilangkan rasa lapar), pasangan laki-laki atau perempuan (untuk pemuasan nafsu seks) dan benda-benda kebutuhan hidup lainnya untuk memberi kepuasaan terhadap kama. “Kama” artinya naluri atau insting untuk mendapat kebutuhan hidup seperti rasa haus, lapar, nafsu seks dan naluri-naluri lain yang terdapat dalam jiwa.

Mewujudkan Jagaddhita maupun moksa, maka artha dan kama harus dikendalikan oleh Dharma, tanpa dikendalikan oleh Dharma tidak akan tercapai. Walaupun misalnya artha dan kama itu tercapai dalam hidup ini akan tetapi membawa penderitaan, bencana dan malapetaka bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Namun, masih ada kesempatan terbuka bagi kita untuk menukar semua kekayaan duniawi menjadi sesuatu yang lebih bernilai yaitu menjadi kekayaan spiritual Oleh karena itu, etika moral yang disebut Dharma merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam mewujudkan kedamaian dunia, kebaikan umat manusia, dan kesejahteraan rakyat yang disebut Jagaddhita. Pengertian Dharma sebagai faktor penentu dalam mewujudkan Jagaddhita diuraikan dalam Weda : “Lokasamgraha sanyuktam, wadatra wihitam pura, suksma dharmartham niyatam, satam caritam uttamam” Artinya Kesentosaan umat manusia dan kesejahteraan masyarakat datang dari dharma. Laksana dan budi yang luhur itulah dharma yang utama. “Prabhawapthaya bhutanam, dharma prawacanam kretam, yah syat prabhawasam-yuktah, sa dharmah iti ni cayah” artinya : segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan dan memelihara semua, itulah dharma. Segala sesuatu yang membawa kesentosaan kepada semua mahluk itulah dharma sebenarnya.

Dalam keterangan lain, dharma itu juga diperinci sebagai berikut : Sila ( kesusilaan, budi pekerti luhur), Yajna (pengorbanan tanpa pambrih), Tapa (kuat mengendalikan diri, tahan uji), Brata (mengurangi hawa nafsu, hidup tidak berlebihan), Yoga (ikatan batin dengan Tuhan dan Memuja-Nya) dan Samadhi (meditasi atau semedi, mempersatukan pikiran dengan Tuhan)

Pengertian dharma sebagaimana diuraikan di atas ternyata bahwa ada nilai iman, amal kebajikan, dan kerohanian. Melalui nilai-nilai inilah Tuhan memanifestasikan diri-Nya. Tuhan sukar manifest dihadapan manusia, walaupun Tuhan ada dimana-mana dan meresap disegala tempat (Wyapi wyapaka nirwikara), apabila manusia melupakan Dharma dan melanggar dharma. Hanya dengan dharma yakni iman, amal kebajikan, dan kerohanian, maka Sanghyang Sangkan Paraning Dumadi (Tuhan sebagai sumber hidup semua mahluk) dapat dirasakan kehadiranNya.
M. Thoyib HM

terkadang kehidupan dunia membuat kita lalai dalam mengerjakan apa yang telah menjadi sebuah kewajiban untuk akhirat

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post